
eem asal tasik malaya .kerja 7 tahun gaji tidak dibayar dan disekap serta dianiaya diarab saudi
Eem Semula Dianggap Tewas
NASIB tragis menimpa Eem (23), tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Madewangi RT 2 RW 1 Kelurah
an Setiamulya Kec. Tamansari Kota Tasikmalaya. Selama tujuh tahun ia disekap oleh majikannya,
keluarga Safi Zed Al Sihli di Riyadh Arab Saudi. Selain disekap selama tujuh tahun itu,
Eem pun tidak diperkenankan pulang ke kampunng halamannya.
Sejak kepergian Eem pada 2002 hingga tujuh tahun ini, kedua orang tuanya kehilangan komunikasi.
Tidak ada surat maupun kabar apa pun, apalagi Aat dan Ny. Mae belum pernah menerima uang sepeser
pun dari pengiriman anaknya.
Padahal, kontrak kerja bagi Eem hanya selama dua tahun. Ketika itu umurnya baru enam belas tahun.
Bahkan, pihak perusahaan sebagai penyalur tenaga kerja menyatakan Eem kabur dari rumah majikannya
di Arab Saudi. Begitupun keluarga pasangan Aat (55) dan Ny. Mae (50) menganggap putri keduanya
itu sudah meninggal dunia, dan pasrah serta merelakan kepergiannya.
Akan tetapi, Minggu kemarin, tabir hilangnya TKW Eem mulai terkuak setelah teman sepekerjaannya,
Narsih pulang ke Indonesia. Sepulangnya dari Arab, Narsih membawa pesan dari Eem, berupa satu
lembar fotokopi KTP, yang harus diserahkan kepada kedua orang tuanya, sambil berpesan bahwa Eem
ingin pulang ke Indonesia.
Narsih, TKW asal Kampung Cikuda Desa Lengkong Kec. Cipeunduey Kab. Subang itu, menyuruh suaminya,
Atung, untuk menyampaikan kabar duka dari Eem. Bahkan, Narsih menyuruh suaminya agar cepat
mengabari orang tua Eem, serta menceritakan keadaan dan kondisi Eem selama menjadi pembantu rumah
tangga di Arab Saudi.
Nyonya Mae dan suaminya, Aat kaget bercampur gembira setelah kedatangan Atung, yang mengabarkan
bahwa anaknya, yang selama tujuh tahun ini dinyatakan sudah meninggal dunia ternyata masih hidup.
"Kawitna abdi sakulawargi parantos pasrah, sareng nganggap pun anak tos pupus di Arab.
Mung unggal dinten ngadoa ka Allah SWT, mugia pun anak salamet (Sebelumnya saya sekeluarga
sudah pasrah dan menganggap anak saya sudah meninggal dunia di Arab Saudi. Namun, setiap hari
berdoa kepada Allah SWT supaya anak saya selamat)," tutur Ny. Mae sambil mengusap air matanya.
Nyonya Mae dan Aat berharap agar anaknya itu bisa dipulangkan ke Indonesia dengan selamat.
Bahkan, Kamis (18/6) kemarin, mereka berniat menghadap Wali Kota Tasikmalaya. Namun, mereka
tidak sempat bertemu wali kota dan mereka hanya bertemu dengan anggota DPRD Kota Tasikmalaya.
Korban "trafficking"?
Ihwal kepergian Eem ke Arab Saudi tenyata ikut bersama teman sekampungnya pada 24 Agustus 2002.
Padahal, waktu itu ia masih di bawah umur sekitar enam belas tahun. Eem direkrut melalui
penyalur tenaga kerja PT Sap Sag di Jakarta. Perusahaan tersebut belakangan mengeluarkan
pernyataan bahwa Eem kabur dari rumah majikannya di Arab Saudi sejak tahun 2004.
Padahal menurut Narsih, Eem bekerja keras di rumah majikannya, sedangkan Narsih bekerja
sebagai pembantu rumah tangga di rumah anak majikannya. Letak rumah majikan mereka berdampingan
sehingga keberadaan Eem bisa terlihat oleh Narsih.
Narsih bercerita kepada suaminya, bahwa Eem selalu bekerja keras sehingga kedua telapak tangannya
pecah-pecah, juga kakinya luka-luka, sebagai akibat bekerja terlalu berat. "Bahkan, Eem tidak
diberikan tempat tidur layak sebagaimana pembantu rumah tangga lainnya, tetapi Eem dibiarkan
tidur di lantai di bawah tangga," tutur Ny. Mae menirukan kabar dari Atung.
Sebenarnya, Eem bukan tidak ada niat untuk pulang ke Indonesia, namun selama itu Eem tidak
diizinkan pulang ke Indonesia, bahkan gajinya pun selama tujuh tahun tidak diberikan.
Selama di sana, Narsih selalu memberi semangat agar Eem memberanikan diri kepada majikannya
untuk bisa pulang. Akan tetapi, tampaknya Eem tidak berdaya. Berbeda dengan Narsih, dengan
keberaniannya ia bisa pulang ke Subang.
Wali Kota Tasikmalaya, H. Syarif Hidayat didampingi Wakil Wali Kota, H. Dede Sudrajat ketika
diminta konfirmasinya seusai serah terima jabatan sekda kota di Gedung Juang, Kamis kemarin,
menyatakan kekagetannya. Wali Kota berjanji akan menjenguk kedua orang tua Eem, dan akan
mengupayakan ke pulangannya ke Indonesia. (Cecep S.A./"PR")***
Penulis: Eem Semula Dianggap Tewas
NASIB tragis menimpa Eem (23), tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Madewangi RT 2 RW 1 Kelurah
an Setiamulya Kec. Tamansari Kota Tasikmalaya. Selama tujuh tahun ia disekap oleh majikannya,
keluarga Safi Zed Al Sihli di Riyadh Arab Saudi. Selain disekap selama tujuh tahun itu,
Eem pun tidak diperkenankan pulang ke kampunng halamannya.
Sejak kepergian Eem pada 2002 hingga tujuh tahun ini, kedua orang tuanya kehilangan komunikasi.
Tidak ada surat maupun kabar apa pun, apalagi Aat dan Ny. Mae belum pernah menerima uang sepeser
pun dari pengiriman anaknya.
Padahal, kontrak kerja bagi Eem hanya selama dua tahun. Ketika itu umurnya baru enam belas tahun.
Bahkan, pihak perusahaan sebagai penyalur tenaga kerja menyatakan Eem kabur dari rumah majikannya
di Arab Saudi. Begitupun keluarga pasangan Aat (55) dan Ny. Mae (50) menganggap putri keduanya
itu sudah meninggal dunia, dan pasrah serta merelakan kepergiannya.
Akan tetapi, Minggu kemarin, tabir hilangnya TKW Eem mulai terkuak setelah teman sepekerjaannya,
Narsih pulang ke Indonesia. Sepulangnya dari Arab, Narsih membawa pesan dari Eem, berupa satu
lembar fotokopi KTP, yang harus diserahkan kepada kedua orang tuanya, sambil berpesan bahwa Eem
ingin pulang ke Indonesia.
Narsih, TKW asal Kampung Cikuda Desa Lengkong Kec. Cipeunduey Kab. Subang itu, menyuruh suaminya,
Atung, untuk menyampaikan kabar duka dari Eem. Bahkan, Narsih menyuruh suaminya agar cepat
mengabari orang tua Eem, serta menceritakan keadaan dan kondisi Eem selama menjadi pembantu rumah
tangga di Arab Saudi.
Nyonya Mae dan suaminya, Aat kaget bercampur gembira setelah kedatangan Atung, yang mengabarkan
bahwa anaknya, yang selama tujuh tahun ini dinyatakan sudah meninggal dunia ternyata masih hidup.
"Kawitna abdi sakulawargi parantos pasrah, sareng nganggap pun anak tos pupus di Arab.
Mung unggal dinten ngadoa ka Allah SWT, mugia pun anak salamet (Sebelumnya saya sekeluarga
sudah pasrah dan menganggap anak saya sudah meninggal dunia di Arab Saudi. Namun, setiap hari
berdoa kepada Allah SWT supaya anak saya selamat)," tutur Ny. Mae sambil mengusap air matanya.
Nyonya Mae dan Aat berharap agar anaknya itu bisa dipulangkan ke Indonesia dengan selamat.
Bahkan, Kamis (18/6) kemarin, mereka berniat menghadap Wali Kota Tasikmalaya. Namun, mereka
tidak sempat bertemu wali kota dan mereka hanya bertemu dengan anggota DPRD Kota Tasikmalaya.
Korban "trafficking"?
Ihwal kepergian Eem ke Arab Saudi tenyata ikut bersama teman sekampungnya pada 24 Agustus 2002.
Padahal, waktu itu ia masih di bawah umur sekitar enam belas tahun. Eem direkrut melalui
penyalur tenaga kerja PT Sap Sag di Jakarta. Perusahaan tersebut belakangan mengeluarkan
pernyataan bahwa Eem kabur dari rumah majikannya di Arab Saudi sejak tahun 2004.
Padahal menurut Narsih, Eem bekerja keras di rumah majikannya, sedangkan Narsih bekerja
sebagai pembantu rumah tangga di rumah anak majikannya. Letak rumah majikan mereka berdampingan
sehingga keberadaan Eem bisa terlihat oleh Narsih.
Narsih bercerita kepada suaminya, bahwa Eem selalu bekerja keras sehingga kedua telapak tangannya
pecah-pecah, juga kakinya luka-luka, sebagai akibat bekerja terlalu berat. "Bahkan, Eem tidak
diberikan tempat tidur layak sebagaimana pembantu rumah tangga lainnya, tetapi Eem dibiarkan
tidur di lantai di bawah tangga," tutur Ny. Mae menirukan kabar dari Atung.
Sebenarnya, Eem bukan tidak ada niat untuk pulang ke Indonesia, namun selama itu Eem tidak
diizinkan pulang ke Indonesia, bahkan gajinya pun selama tujuh tahun tidak diberikan.
Selama di sana, Narsih selalu memberi semangat agar Eem memberanikan diri kepada majikannya
untuk bisa pulang. Akan tetapi, tampaknya Eem tidak berdaya. Berbeda dengan Narsih, dengan
keberaniannya ia bisa pulang ke Subang.
Wali Kota Tasikmalaya, H. Syarif Hidayat didampingi Wakil Wali Kota, H. Dede Sudrajat ketika
diminta konfirmasinya seusai serah terima jabatan sekda kota di Gedung Juang, Kamis kemarin,
menyatakan kekagetannya. Wali Kota berjanji akan menjenguk kedua orang tua Eem, dan akan
mengupayakan ke pulangannya ke Indonesia. (Cecep S.A./"PR")***
Penulis:
Eem Semula Dianggap Tewas
NASIB tragis menimpa Eem (23), tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Madewangi RT 2 RW 1 Kelurah
an Setiamulya Kec. Tamansari Kota Tasikmalaya. Selama tujuh tahun ia disekap oleh majikannya,
keluarga Safi Zed Al Sihli di Riyadh Arab Saudi. Selain disekap selama tujuh tahun itu,
Eem pun tidak diperkenankan pulang ke kampunng halamannya.
Sejak kepergian Eem pada 2002 hingga tujuh tahun ini, kedua orang tuanya kehilangan komunikasi.
Tidak ada surat maupun kabar apa pun, apalagi Aat dan Ny. Mae belum pernah menerima uang sepeser
pun dari pengiriman anaknya.
Padahal, kontrak kerja bagi Eem hanya selama dua tahun. Ketika itu umurnya baru enam belas tahun.
Bahkan, pihak perusahaan sebagai penyalur tenaga kerja menyatakan Eem kabur dari rumah majikannya
di Arab Saudi. Begitupun keluarga pasangan Aat (55) dan Ny. Mae (50) menganggap putri keduanya
itu sudah meninggal dunia, dan pasrah serta merelakan kepergiannya.
Akan tetapi, Minggu kemarin, tabir hilangnya TKW Eem mulai terkuak setelah teman sepekerjaannya,
Narsih pulang ke Indonesia. Sepulangnya dari Arab, Narsih membawa pesan dari Eem, berupa satu
lembar fotokopi KTP, yang harus diserahkan kepada kedua orang tuanya, sambil berpesan bahwa Eem
ingin pulang ke Indonesia.
Narsih, TKW asal Kampung Cikuda Desa Lengkong Kec. Cipeunduey Kab. Subang itu, menyuruh suaminya,
Atung, untuk menyampaikan kabar duka dari Eem. Bahkan, Narsih menyuruh suaminya agar cepat
mengabari orang tua Eem, serta menceritakan keadaan dan kondisi Eem selama menjadi pembantu rumah
tangga di Arab Saudi.
Nyonya Mae dan suaminya, Aat kaget bercampur gembira setelah kedatangan Atung, yang mengabarkan
bahwa anaknya, yang selama tujuh tahun ini dinyatakan sudah meninggal dunia ternyata masih hidup.
"Kawitna abdi sakulawargi parantos pasrah, sareng nganggap pun anak tos pupus di Arab.
Mung unggal dinten ngadoa ka Allah SWT, mugia pun anak salamet (Sebelumnya saya sekeluarga
sudah pasrah dan menganggap anak saya sudah meninggal dunia di Arab Saudi. Namun, setiap hari
berdoa kepada Allah SWT supaya anak saya selamat)," tutur Ny. Mae sambil mengusap air matanya.
Nyonya Mae dan Aat berharap agar anaknya itu bisa dipulangkan ke Indonesia dengan selamat.
Bahkan, Kamis (18/6) kemarin, mereka berniat menghadap Wali Kota Tasikmalaya. Namun, mereka
tidak sempat bertemu wali kota dan mereka hanya bertemu dengan anggota DPRD Kota Tasikmalaya.
Korban "trafficking"?
Ihwal kepergian Eem ke Arab Saudi tenyata ikut bersama teman sekampungnya pada 24 Agustus 2002.
Padahal, waktu itu ia masih di bawah umur sekitar enam belas tahun. Eem direkrut melalui
penyalur tenaga kerja PT Sap Sag di Jakarta. Perusahaan tersebut belakangan mengeluarkan
pernyataan bahwa Eem kabur dari rumah majikannya di Arab Saudi sejak tahun 2004.
Padahal menurut Narsih, Eem bekerja keras di rumah majikannya, sedangkan Narsih bekerja
sebagai pembantu rumah tangga di rumah anak majikannya. Letak rumah majikan mereka berdampingan
sehingga keberadaan Eem bisa terlihat oleh Narsih.
Narsih bercerita kepada suaminya, bahwa Eem selalu bekerja keras sehingga kedua telapak tangannya
pecah-pecah, juga kakinya luka-luka, sebagai akibat bekerja terlalu berat. "Bahkan, Eem tidak
diberikan tempat tidur layak sebagaimana pembantu rumah tangga lainnya, tetapi Eem dibiarkan
tidur di lantai di bawah tangga," tutur Ny. Mae menirukan kabar dari Atung.
Sebenarnya, Eem bukan tidak ada niat untuk pulang ke Indonesia, namun selama itu Eem tidak
diizinkan pulang ke Indonesia, bahkan gajinya pun selama tujuh tahun tidak diberikan.
Selama di sana, Narsih selalu memberi semangat agar Eem memberanikan diri kepada majikannya
untuk bisa pulang. Akan tetapi, tampaknya Eem tidak berdaya. Berbeda dengan Narsih, dengan
keberaniannya ia bisa pulang ke Subang.
Wali Kota Tasikmalaya, H. Syarif Hidayat didampingi Wakil Wali Kota, H. Dede Sudrajat ketika
diminta konfirmasinya seusai serah terima jabatan sekda kota di Gedung Juang, Kamis kemarin,
menyatakan kekagetannya. Wali Kota berjanji akan menjenguk kedua orang tua Eem, dan akan
mengupayakan ke pulangannya ke Indonesia. (Cecep S.A./"PR")***
Penulis:
Eem Semula Dianggap Tewas
NASIB tragis menimpa Eem (23), tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Madewangi RT 2 RW 1 Kelurah
an Setiamulya Kec. Tamansari Kota Tasikmalaya. Selama tujuh tahun ia disekap oleh majikannya,
keluarga Safi Zed Al Sihli di Riyadh Arab Saudi. Selain disekap selama tujuh tahun itu,
Eem pun tidak diperkenankan pulang ke kampunng halamannya.
Sejak kepergian Eem pada 2002 hingga tujuh tahun ini, kedua orang tuanya kehilangan komunikasi.
Tidak ada surat maupun kabar apa pun, apalagi Aat dan Ny. Mae belum pernah menerima uang sepeser
pun dari pengiriman anaknya.
Padahal, kontrak kerja bagi Eem hanya selama dua tahun. Ketika itu umurnya baru enam belas tahun.
Bahkan, pihak perusahaan sebagai penyalur tenaga kerja menyatakan Eem kabur dari rumah majikannya
di Arab Saudi. Begitupun keluarga pasangan Aat (55) dan Ny. Mae (50) menganggap putri keduanya
itu sudah meninggal dunia, dan pasrah serta merelakan kepergiannya.
Akan tetapi, Minggu kemarin, tabir hilangnya TKW Eem mulai terkuak setelah teman sepekerjaannya,
Narsih pulang ke Indonesia. Sepulangnya dari Arab, Narsih membawa pesan dari Eem, berupa satu
lembar fotokopi KTP, yang harus diserahkan kepada kedua orang tuanya, sambil berpesan bahwa Eem
ingin pulang ke Indonesia.
Narsih, TKW asal Kampung Cikuda Desa Lengkong Kec. Cipeunduey Kab. Subang itu, menyuruh suaminya,
Atung, untuk menyampaikan kabar duka dari Eem. Bahkan, Narsih menyuruh suaminya agar cepat
mengabari orang tua Eem, serta menceritakan keadaan dan kondisi Eem selama menjadi pembantu rumah
tangga di Arab Saudi.
Nyonya Mae dan suaminya, Aat kaget bercampur gembira setelah kedatangan Atung, yang mengabarkan
bahwa anaknya, yang selama tujuh tahun ini dinyatakan sudah meninggal dunia ternyata masih hidup.
"Kawitna abdi sakulawargi parantos pasrah, sareng nganggap pun anak tos pupus di Arab.
Mung unggal dinten ngadoa ka Allah SWT, mugia pun anak salamet (Sebelumnya saya sekeluarga
sudah pasrah dan menganggap anak saya sudah meninggal dunia di Arab Saudi. Namun, setiap hari
berdoa kepada Allah SWT supaya anak saya selamat)," tutur Ny. Mae sambil mengusap air matanya.
Nyonya Mae dan Aat berharap agar anaknya itu bisa dipulangkan ke Indonesia dengan selamat.
Bahkan, Kamis (18/6) kemarin, mereka berniat menghadap Wali Kota Tasikmalaya. Namun, mereka
tidak sempat bertemu wali kota dan mereka hanya bertemu dengan anggota DPRD Kota Tasikmalaya.
Korban "trafficking"?
Ihwal kepergian Eem ke Arab Saudi tenyata ikut bersama teman sekampungnya pada 24 Agustus 2002.
Padahal, waktu itu ia masih di bawah umur sekitar enam belas tahun. Eem direkrut melalui
penyalur tenaga kerja PT Sap Sag di Jakarta. Perusahaan tersebut belakangan mengeluarkan
pernyataan bahwa Eem kabur dari rumah majikannya di Arab Saudi sejak tahun 2004.
Padahal menurut Narsih, Eem bekerja keras di rumah majikannya, sedangkan Narsih bekerja
sebagai pembantu rumah tangga di rumah anak majikannya. Letak rumah majikan mereka berdampingan
sehingga keberadaan Eem bisa terlihat oleh Narsih.
Narsih bercerita kepada suaminya, bahwa Eem selalu bekerja keras sehingga kedua telapak tangannya
pecah-pecah, juga kakinya luka-luka, sebagai akibat bekerja terlalu berat. "Bahkan, Eem tidak
diberikan tempat tidur layak sebagaimana pembantu rumah tangga lainnya, tetapi Eem dibiarkan
tidur di lantai di bawah tangga," tutur Ny. Mae menirukan kabar dari Atung.
Sebenarnya, Eem bukan tidak ada niat untuk pulang ke Indonesia, namun selama itu Eem tidak
diizinkan pulang ke Indonesia, bahkan gajinya pun selama tujuh tahun tidak diberikan.
Selama di sana, Narsih selalu memberi semangat agar Eem memberanikan diri kepada majikannya
untuk bisa pulang. Akan tetapi, tampaknya Eem tidak berdaya. Berbeda dengan Narsih, dengan
keberaniannya ia bisa pulang ke Subang.
Wali Kota Tasikmalaya, H. Syarif Hidayat didampingi Wakil Wali Kota, H. Dede Sudrajat ketika
diminta konfirmasinya seusai serah terima jabatan sekda kota di Gedung Juang, Kamis kemarin,
menyatakan kekagetannya. Wali Kota berjanji akan menjenguk kedua orang tua Eem, dan akan
mengupayakan ke pulangannya ke Indonesia. (Cecep S.A./"PR")***
Penulis: